Dari Canting Lahir Harapan: Jejak Pembinaan Pertamina di Rumah Kreatif Boek Khaman

0
Syafira sedang membagik

Sayfira Dese Novianti, mahasiswa asal Desa Lubuk Raman, membatik di Rumah Kreatif Boek Khaman yang menjadi sumber penghasilan untuk membantu biaya kuliahnya.

Di sela kesibukannya sebagai mahasiswa Universitas Bina Darma Palembang, Sayfira Dese Novianti tak pernah melupakan kampung halamannya di Desa Lubuk Raman, Kecamatan Rambang Niru, Kabupaten Muara Enim. Setiap kali pulang, tangannya kembali lincah menggoreskan malam di atas selembar kain putih. Dari pekerjaan yang membutuhkan ketelitian itu, ia mampu membayar biaya kos sekaligus membantu uang kuliahnya.

Batik bagi Sayfira bukan sekedar warisan budaya. Di Rumah Kreatif Boek Khaman, batik menjadi harapan yang mengubah kehidupan.

Kisah Sayfira hanyalah satu dari puluhan cerita yang lahir dari rumah kreatif yang berdiri sejak 2022 itu. Berawal dari modal swadaya masyarakat sekitar Rp5 juta, Rumah Kreatif Boek Khaman kini berkembang menjadi sentra batik yang memberdayakan 47 pengrajin, dengan 20 orang di antaranya khusus membuat batik tulis.

Ketua Rumah Kreatif Boek Khaman, Etika Oktasari, menjelaskan perkembangan kelompok batik sejak berdiri pada 2022.

Perjalanan itu mendapat dorongan besar setelah PT Pertamina EP Limau Field yang merupakan bagian dari Pertamina Hulu Rokan (PHR) mulai melakukan pembinaan melalui Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) pada 2023. Hasilnya, kapasitas produksi yang sebelumnya hanya sekitar 10 hingga 20 meter kain kini meningkat menjadi satu hingga dua rol dalam sekali produksi, atau setara 100 hingga 200 meter.

Produksi Batik Boek Khaman kini mencapai satu hingga dua rol atau sekitar 100–200 meter dalam satu kali produksi.

“Rumah Kreatif Boek Khaman mulai berdiri pada tahun 2022, kemudian mendapatkan pembinaan dari Pertamina sejak tahun 2023. Awalnya kami hanya mampu memproduksi sekitar 10 sampai 20 meter kain batik. Alhamdulillah, sekarang sudah mencapai satu hingga dua rol, di mana satu rol sepanjang 100 meter,” ujar Ketua Rumah Kreatif Boek Khaman, Etika Oktasari, S.P., saat menerima kunjungan Media Field Trip PT Pertamina EP Limau Field, Jumat (10/7/2026).

Tim Pertamina berdialog dengan Pemerintah Desa dan Kecamatan saat kunjungan Media Field Trip Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat.

Kegiatan tersebut dihadiri Camat Rambang Niru Deny Eka Saputra, S.P., Kepala Desa Lubuk Raman Hengkri Triansyah, A.Md., Manager Relations Pertamina Hulu Rokan Frans Alexander Hukom, para pengrajin, masyarakat desa, serta insan media yang melihat langsung proses pembuatan batik.

Produk Batik Boek Khaman telah dipasarkan ke berbagai daerah di Sumatera Selatan.

Di ruang produksi yang sederhana, setiap lembar kain dikerjakan dengan penuh ketelitian. Para pengrajin menorehkan malam menggunakan canting hingga motif terlihat sama jelasnya di kedua sisi kain. Itulah ciri khas batik tulis yang membedakannya dari batik cetak, yang motifnya hanya tampak pada bagian depan.

Tak hanya menjaga tradisi, para pengrajin juga mengangkat identitas kampung melalui nama “Boek Khaman”. Dalam bahasa setempat, khaman adalah buah gandaria (Bouea macrophylla Griffith), buah tropis yang sejak lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Lubuk Raman. Nama itu kemudian diabadikan sebagai identitas batik yang membawa cerita tentang alam, budaya, dan semangat masyarakat desa.

Kini, Batik Boek Khaman telah dipasarkan ke berbagai wilayah, mulai dari Kabupaten Muara Enim, Kota Palembang, hingga daerah lain di Sumatera Selatan. Perkembangannya turut memperkuat citra Desa Lubuk Raman yang sebelumnya meraih Juara III Nasional Lomba Desa Terbaik Kategori Regional I Sumatera dari Kementerian Dalam Negeri.

Peserta Media Field Trip berfoto bersama pengrajin Rumah Kreatif Boek Khaman di Desa Lubuk Raman.

Bagi masyarakat Lubuk Raman, batik bukan lagi sekedar sehelai kain bermotif. Di balik setiap goresan canting tersimpan harapan, kemandirian ekonomi, dan mimpi yang perlahan menjadi kenyataan. Dari sebuah rumah kreatif di sudut Muara Enim, lembar demi lembar kain membuktikan bahwa ketika budaya dirawat dan masyarakat diberi ruang untuk berkembang, kesejahteraan pun dapat tumbuh bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *